Senin, 22 April 2013

Makalah Hadits tentang kepedulian sosial



A.  Pendahuluan.

Kepedulian social termasuk dalam ibadah jika dilaksanakan dengan tujuan kebaikan. Kepedulian social dapat diartikan sebagai sikap memperhatikan urusan oranglain (sesama anggota masyarakat). Kepedulian social yang dimaksud disini bukanlah untuk mencampuri urusan oranglain, tetapi lebih pada membantu menyeleseikan permasalahan yang dihadapi oranglain dengan tujuan perdamaian dan kebaikan.
Manusia memang sejatinya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan sosial, karena memang manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan oranglain yang akan melahirkan kebersamaan,berkomunikasi, tolong menolong dan dalam berbagai aktivitas social lainnya. Dalam pandangan islam seseorang tidak akan dikatakan sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Sebenarnya pandangan islam yang demikian sudah benar, tetapi kenyataannya sekarang masih banyak orang yang kurang peduli terhadap permasalahan sosial ini sehingga tatanan sosial menjadi kurang seimbang yang mengakibatnkan banyak terjadi kekacauan seperti pencurian, perampokan,dll. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai kepedulian sosial dalam perspektif hadits Rasulullah SAW.

B. Kepedulian Sosial.
  1. Memperhatikan Kesulitan Orang lain
  وعن أبى هر يرة رضى الله عنه عن النبى قال : من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيانفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، ومن يسرعلى معسر يسرالله عليه فحا الد نياو الأخرة، ومن ستر مسلنا ستر ه الله فحا الد نياوالاخرة، والله فحاعون أخيه، ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة، وما اجتمع قوم فى  بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله و يتدا رسونه بيهم إلا نزلت عليهم السكينة،
و غشيتهم الرحمة، وحفتهم الملا ئكة، وذكرهم الله فيمن عنده، ومن بطأ به عمله لم يسرغ به نسبه. (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan yang dialami orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya pada hari kiamat. Siapa saja memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun diakhirat. Siapa saja yang menutupi kejelekan seorang muslim, maka Allah akan menutupi kejelekannya didunia dan diakhirat, dan Allah senantiasa member pertolongan kepeda hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” ( HR. Muslim ).[1]

Seseorang baru dapat meringankan atau bahkan melepaskan kesulitan orang lain, setelah dia memperhatikan kesulitan orang itu. Seorang muslim yang ingin ditolong oleh Allah SWT harus berusaha semampunya untuk menolong saudaranya yang sedang dalam keadaan kesulitan, sebagaimanan dinyatakan dalam hadits diatas. Hadits diatas juga mengajarkan kita untuk peduli dengan sesama muslim yang dikatakan oleh Reasulullah ada 3 hal yang nantinya ketiga hal tersebut akan dibalas dengan kebaikan yang sama diakhirat.
Ketiga hal tersebut adalah :
a.       Melepaskan kesulitan orang muslim.
b.      Memudahkan seseorang yang sedang dalam kesusahan.
c.       Menutupi Aib orang muslim.

Bila memperhatikan tentng kodrat kita sebagai makhluk social, maka akan tercipta persatuan dan kesatuan dilingkungan kita yaitu keluarga, kampong kita hidup, dan umumnya di Negara kita tercinta akan hidup damai dan bahagia. Hendaklah kita sebagai makhluk social jangan mementingkab diri sendiri tanpa memperhatikan pendapat, kesulitan oranglain dlam segala hal.

Dalam hadits Riwayat Muslim dinyatakan bahwa Nabi saw  telah bersabda:
من سره ان ينجيه الله من كر بيوم القيا مة فلينفس عن معس اويضع عنه
Artinya : Dari Abu Qatadah r.a., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang menginginkan untuk diselamatkan oleh Allah dari kesulitan hari kiamat, maka bantulah meringankan kesulitan orangkain atau hindarkanlah kesulitannya.” (HR.Muslim).[2]

Dapat dipahami bahwa konsep saling menolong telah diajarkan dalam islam sebagai bentuk kepedulian terhadap sesam. Sebagaimana hadits diatas yang menjelaskan tentang anjuran untuk memperhatikan, meringankan dan menghindarkan kesulitan oranglain yang sekiranya membutuhkan atau patut untuk dibantu dalam kebaikan dan kita mampu untuk menolong hendaklah kita tolong. Namun, tentunya kepedulian social tersebut harus dilandasi dengan niat yang tulus, semata-mata hanya mengharap ridha Allah, sehingga nantinya kasih saying Allah akan datang kepada kita baik di dunia maupun diakhirat sebagai bentuk balasan dari-Nya.

2. Meringankan beban dan penderitaan oranglain.
 عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
 المسلم اخوالمسلم لا يظلمه ولا يسلمه، من كان فى حاجة أخيه، كان الله
فى حاجته
Artinya : Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar r.a., Rasulullah Saw. bersabda : “Seorang muslim adalah saudara dengan muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, dan tidak boleh membiarkan saudaranya teraniaya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan melapangkan baginya kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aib nya pada hari kiamat.” (HR.Muslim).[3]

Dalam islam antara seorang muslim terhadap muslim lain adalah saudara dan tentunya ada salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim terhadap saudaranya yaitu tidak boleh membuat saudaranya kesusahan, sengsara, kewajiban untuk mempermudah kepentigan (hajat atau kebutuhan saudaranya) dan kita sebagai seorang muslim harus memberi rasa aman terhadap saudara muslim yang lain. Maka dari itu, Allah SWT akan memberikan balasan terhadap seorang muslim yang memenuhi kewajiban antar sesame muslim tersebut pada hari kiamat.

Sabda Rasulullah Saw.
 عن ابى هريرة رضى الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :
 من اعتق رقبة مؤمنة، اعتق الله بكل عضومنه عضوا من النار حتى يعتق فرجه بفرجه.

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., : Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda , “Barangsiapa memerdekakan seorang sajaya mukmin, Allah juga akan melepaskan anggota tubuh orang itu dari api neraka, sebanyak anggota badan sahaya yang dimerdekakannya itu, sampai kemaluannya pun karena kemaluan sang budak itu.”[4]
Sebaiknya dalam membantu penderitaan oranglain, seorang muslim sebaiknya mengutamakan orang yang sedang kesusahan atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan. Seperti maksud hadits diatas bahwa seorang yang melepaskan penderitaan oranglain itu akan dibalas dengan kebaikan yang sama yaitu dilepaskan penderitaannya dari api neraka. Maka utamakanlah member bantuan kepada sesame muslim dan lepaskanlah penderitaannya.

Seperti Firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 9 :
šcrãÏO÷sãƒur #n?tã öNÍkŦàÿRr& öqs9ur tb%x. öNÍkÍ5 ×p|¹$|Áyz 4
Artinya : Allah berfirman : “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.Al-Hasyr : 9).[5]


Bahwasannya kita sebagai seorang muslim yang baik, salah satu amalan yang paling utama adalah kita membantu meringankan beban penderitaan oranglain seperti member makanan jikalau dia lapar ataukah kita membantu mebayarkan hutangnya semampu kita. Seperti Sabda Rasulullah Saw :

 افضل الاعمال ان تدخل على اخيك المؤمن سرورا اوتقضى عنه د ينا اوتطعمه خبرا
Artinya : “Amal yang paling utama adalah bahwa engkau mengunjungi saudaramu orang mukmin dengan riang gembira atau engkau lunasi hutangnya atau engkau beri makan dia roti.”
Diriwayatkan oleh : Ibnu Abi Dunya dalam bab Fii Qadhail Hawaaij, dan Ibnu Lal dalam Makarimul Akhlaq, dan Al Baihaqi dalam As Syu’ab dari Abu hurairah r.a[6]

Dalam hadits diatas, amalan-amalan yang ada di dalam hadits tersebut merupakan akhlaq terpuji, salah satunya adalah melunasi hutang atau memberi makanan roti yang dimaksud roti disini adalah makanan yang mengenyangkan, yang termasuk dalam hal meringankan beban penderitaan oranglain. Dan termasuk dalam kategori kepedulian social dalam hal kebaikan.
Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah : “Bertolong-tolonglah kamu atas dasar kebaikan dan taqwa…”(QS.Al-Maidah :2). Dan juga sabda dari Rasulullah yaitu bawasannya kita harus mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. “Orang mukmin itu saudara bagi orang mukmin lain, dia akan berusaha menuruti apa yang disukai saudaranya itu, dia bayarkan hutangnya kalau dia sanggup, dia beri makan kalau dia lapar.[7]
Bukankah sudah jelas dari Firman Allah dan Sabda Rasulullah Saw. bahwa kita sebagai umat muslim harus saling tolong menoong dalam hal kebaikan. Jikalau semua umat muslim mau tolong menolong, Alangkah indahnya islamiyah dan masyarakat islam yang mengantarkan manusia seluruhnya dalam kebahagiaan, serta tatanan social yang semula tidak seimbang menjadi seimbang karena banyak orang yang sadar akan pentingnya peduli terhadap sesama muslim.





C. Kesimpulan

Kita sebagai umat muslim harus saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Namun tentunya tolong menolong tersebut harus dilandasi dengan niat yang tulus, semata-mata hanya mengharap ridha Allah, sehingga nantinya kasih saying Allah akan datang kepada kita baik di dunia maupun diakhirat sebagai bentuk balasan dari-Nya.. Jikalau semua umat muslim mau tolong menolong, Alangkah indahnya islamiyah dan masyarakat islam yang mengantarkan manusia seluruhnya dalam kebahagiaan, serta tatanan social yang semula tidak seimbang menjadi seimbang karena banyak orang yang sadar akan pentingnya peduli terhadap sesame muslim.
Wallahua’alam…..














Daftar Pustaka

An Nawawi, Al Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf. Riyadus Sholihin. Jakarta: Pustaka Amani,1999.
AD Damsyiqi,Ibnu Hamzah Al Husaini Al hanafi. Asbabul Wurud I. Jakarta: Kalam Mulia,2006.
Bahreisj, Hussein. Himpunan Hadits Muslim. Surabaya: Al-Ikhlas , 1984.
Al Mundziri, Al Hafizh Zaki Al Din ‘Abd Al-‘Azhim.Ringkasan Shahih Muslim.Bandung: Mizan Pustaka,2008.








                                                                                            


[1]Al Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi,Riyadhus Sholihin,(Beriut:Darul Fikr, t.t.),267.
[2] Hussein Bahreisj, Himpunan Hadits Shahih Muslim,(Surabaya:Al-Ikhlas,1984),180.
[3] Al Hafizh Al-Din Abd Al-‘Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim terjemahan dari Mukhtasar Shahih Muslim,(Beriut:Al-Maktab Al-Islami ,t.t.),1054
[4] Ibid.,488
[5] QS. Al;Hasyr(59,):9.
[6] Ibnu Hamzah Al Husaini Al Hanafi AD Damsyiqi, Asbabul Wurud I,(Jakarta:Kalam Mulia,2009),237.
[7] Ibid.,238.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar