Senin, 22 April 2013

Makalah Tawakkal



1.      Pengertian  Tawakkal.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering didenganr dan dijumpai ucapan-ucapan bahwa kita bertawakkal kepada Allah SWT. Makna tawakkal disini adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan setelah berusaha bersungguh-sungguh. Secara harfiah, tawakkal berarti bersandar atau mempercayai diri. Apabila dikembangkan etimologinya, tawakkal  bermakna mempercayai diri secara utuh tanpa keraguan.[1] Namun, tawakkal yang dimaksudkan dalam masalah ini adalah tawakkal yang disandarkan kepada agama Islam yaitu bersandar dan mempercayai dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.
Tawakkal adalah kepercayaan dan penyerahan diri kepada takdir Allah dengan sepenuh jiwa dan raga. Dalam tasawuf, tawakkal ditafsirkan sebagai suatu keadaan jiwa yang tetap berada selamanya dalam ketenangan dan ketentraman, baik dalam keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan suka,diri akan bersyukur dan dalam keadaan duka, diri akan bersabar serta tidak resah dan gelisah.[2]
Hakikat tawakkal adalah merupakan gambaran keteguhan hati manusia dalam mengantungkan diri hanya kepada Allah. Dalam buku Tasawuf  Tematik  menurut Dzun Nun, pengertian At-tawakkal  adalah berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan.[3] Dan dalam buku Filsafat Tasawuf menurut Sari As-Saqati, tawakkal adalah pelepasan kekuasaan dan kekuatan, tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapun, melainkan dari Allah semesta alam.[4]
Pembahasan  Tawakkal adapun  yang dicantumkan dalam Al-Qur’an Surat At-Thalaq ayat (3) Allah berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ...   
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi keperluannya”. [5]
            Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa orang yang bertawakkal itu sebagai kekasihNya. Allah menjatuhkan kecintaanNya kepada orang yang bertawakkal itu. Dengan demikian Allah telah mengagungkan dengan suatu kedudukan kepada orang yang bertawakkal. Karena jika Allah telah mencintai seseorang, mencukupi, menanggung, memelihara, maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan.[6]
Bahwasannya dalam penafsiran dari pendapat-pendapat di atas, tawakkal kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah SWT untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan Dunia maupun Akhirat, Dan menyerahkan segala keputusan hanya kepada Allah SWT. Dalam artian, kita mengantungkan kepada Allah itu tidak sepenuhnya kita meminta kepada Allah tanpa kerja dan berupaya lantas tiba-tiba memperoleh rizki dari langit, tentu tidak demikian. Orang yang ingin terpenuhi kebutuhan harus bekerja terlebih dahulu disamping itu kita berdo’a juga, jadi Allah memberi rizki kepada seseorang dengan upaya usaha yang telah diupayakannya.
Umar ibn al-khaththab meriwayatkan, Rasulullah SAW Bersabda, “jika kalian bertawakkal kepada Allah secara benar, niscaya Dia akan memberi rizeki sebagai mana yang Dia berikan kepada burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar namun kembali pada sore harinya dalam keadaan kenyang”.[7]
Diatas diceritakan dalam Tawakkal seekor Burung adalah dengan pergi mencari makan pada pagi harinya dan kembali pada sore harinya, maka Allah menjamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja disarang sambil menunggu makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Begitu pula seharusnya kita atau manusia di dalam dunia ini, apalagi dia diberi kelebihan yang sangat banyak dibandingkan seekor Burung.

2.      Sifat orang yang Bertawakkal
Abu Ali Al-Rubadzari rahimahullah dalam judul buku pintar tasawuf , ciri sifat dari orang yang tawakkal: 
1.      Jika diberi bersyukur, jika tidak diberi bersabar.
2.      Diberi dan tidak diberi baginya sama saja.
3.      Tidak diberi namun bersyukur lebih ia sukai karena ia sadar betul akan pilihan Allah atas dirinya.[8]
Disini dikisahkan dari Hatim al-Asham Rahimahullah pernah ditanya, “atas dasar apa engkau mengatakan bahwa engkau ini bagain dari tawakkal?” ia menjawab, “atas dasar empat hal: pertama, aku sadar bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, sehingga aku tidak perlu gelisah. Kedua, aku sadar bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, sehingga aku yang harus melakukannya sendiri. Ketiga, aku sadar bahwa kematian datang secara tiba-tiba, sehingga aku harus segera menyambutnya. Keempat, aku sadar bahwa Allah selalu melihatku segala kondisi, sehingga aku mesti malu kepadanya.”[9]
Dari pemaparan cerita dan ciri sifat orang yang bertawakkal itu bahwasannya, ketika kita meminta sesuatu kepada Allah jika diberi rizki dan sesuai dengan do’anya dia bersyukur dan kalau dia tidak diberi dia bersabar. Seandainya dia diberi dan tidak diberi itu sama saja dan dia sadar betul akan takdir Allah yang terbaik atas dirinya.


3.        Manfaat tawakkal kepada Allah SWT
1.    dicukupkan Rizkinya dan merasakan ketenangan.
Dan ini memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan penerapan diatas dijelaskan dalam (At-Thalaq : 3).[10]
2.      Dikutkan dan dijauhkan dari setan.
“sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (An-Nahl:99).
Termasuk dari umat Nabi muhammad yang masuk surga tanpa di hisab. Didalam hadits diriwayatkan, Rasulullah pernah menyebutkan bahwa diantara umatnya ada tujuh puluh ribu oarang yang masuk surga tanpa dihisab. Kemudian beliau bersabda, ”yaitu mereka yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat ramalan yang buruk-buruk dan kepada Rabb mereka bertawakkal”. (diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim). Sebenar-benar kitab adalah kitabullah dan sebenar-benar pengalaman adalah sunnah nabi Muhammad SAW. Tidak ada taufik kecuali Allah SWT, cukuplah Dia bagi kita dan dialah sebaik-baik penolong bagi kita.[11]
3.      Bertawakkallah kepada Allah bukan berart meninggalkan usaha untuk mencari rizki dan tidak berobat. Rasulullah sendiri merupakan orang yang paling takut dan paling bertawakkal kepada Allah, akan tetapi beliau berusaha untuk mencari rizki dengan cara berdagang. Dalam haditsnya  seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya ikat (hewan tunggangan saya) lalu bertawakkal atau saya lepas lalu bertawakal?” Beliau menjawab: “Ikatlah lalu bertawakal”.[12]


           
DAFTAR PUSTAKA

Al-sulami, abdirrahman Abu. Al-muqaddimah Fi Al-Tasawwuf. Erlangga, 2007.
Solihi . TASAWUF TEMATIK. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2003.
Irawan,Aguk. Buku Pintar Tasawuf. Jakarta: Zaman, 2012.
Rifa’i, Bachrum dan Hasan Mud’is. Filsafat Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Abu Fajar Al Qalami, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin Imam Al Ghazali,(Surabaya: Gitamedia Press,2003),


[1] Bachrum Rifa’i dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214
[2] Ibid.
[3] M. Sholihin, Tasawuf atematik, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), 21-22.
[4] Bachrum Rifa’i dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214
[5]Abu Fajar Al Qalami, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin Imam Al Ghazali,(Surabaya: Gitamedia Press,2003), 259.
[6] Ibid, 360.
[7] Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012), 145-146.
[8] Ibid, 140.
[9] Abu Abdirrahman Al-sulami, Al-muqaddimah Fi Al-Tasawwuf, (Erlangga,2007), 78.
[11] Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012),136-137.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar