1.
Pengertian Tawakkal.
Dalam
kehidupan sehari-hari, sering didenganr dan dijumpai ucapan-ucapan bahwa kita
bertawakkal kepada Allah SWT. Makna tawakkal disini adalah
menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan setelah berusaha bersungguh-sungguh.
Secara harfiah, tawakkal berarti bersandar atau mempercayai diri.
Apabila dikembangkan etimologinya, tawakkal bermakna mempercayai diri secara utuh tanpa
keraguan.[1]
Namun, tawakkal yang dimaksudkan dalam masalah ini adalah tawakkal yang
disandarkan kepada agama Islam yaitu bersandar dan mempercayai dan menyerahkan
diri kepada Allah SWT.
Tawakkal
adalah
kepercayaan dan penyerahan diri kepada takdir Allah dengan sepenuh jiwa dan
raga. Dalam tasawuf, tawakkal ditafsirkan sebagai suatu keadaan jiwa
yang tetap berada selamanya dalam ketenangan dan ketentraman, baik dalam
keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan suka,diri akan bersyukur dan dalam
keadaan duka, diri akan bersabar serta tidak resah dan gelisah.[2]
Hakikat
tawakkal adalah merupakan gambaran keteguhan hati manusia dalam mengantungkan
diri hanya kepada Allah. Dalam buku Tasawuf Tematik menurut Dzun
Nun, pengertian At-tawakkal adalah berhenti memikirkan diri sendiri dan
merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya penyerahan diri sepenuhnya kepada
Allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan.[3]
Dan dalam buku Filsafat Tasawuf menurut Sari As-Saqati, tawakkal adalah
pelepasan kekuasaan dan kekuatan, tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapun,
melainkan dari Allah semesta alam.[4]
Pembahasan Tawakkal adapun yang dicantumkan dalam Al-Qur’an Surat At-Thalaq
ayat (3) Allah berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى
اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ...
“Dan
barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi
keperluannya”. [5]
Ayat tersebut memberikan isyarat
bahwa orang yang bertawakkal itu sebagai kekasihNya. Allah menjatuhkan
kecintaanNya kepada orang yang bertawakkal itu. Dengan demikian Allah telah
mengagungkan dengan suatu kedudukan kepada orang yang bertawakkal. Karena jika
Allah telah mencintai seseorang, mencukupi, menanggung, memelihara, maka mereka
akan mendapatkan kebahagiaan.[6]
Bahwasannya
dalam penafsiran dari pendapat-pendapat di atas, tawakkal kesungguhan hati
dalam bersandar kepada Allah SWT untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah
bahaya, baik menyangkut urusan Dunia maupun Akhirat, Dan menyerahkan segala
keputusan hanya kepada Allah SWT. Dalam artian, kita mengantungkan kepada Allah
itu tidak sepenuhnya kita meminta kepada Allah tanpa kerja dan berupaya lantas
tiba-tiba memperoleh rizki dari langit, tentu tidak demikian. Orang yang ingin
terpenuhi kebutuhan harus bekerja terlebih dahulu disamping itu kita berdo’a
juga, jadi Allah memberi rizki kepada seseorang dengan upaya usaha yang telah
diupayakannya.
Umar
ibn al-khaththab meriwayatkan, Rasulullah SAW Bersabda, “jika kalian
bertawakkal kepada Allah secara benar, niscaya Dia akan memberi rizeki sebagai
mana yang Dia berikan kepada burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar namun
kembali pada sore harinya dalam keadaan kenyang”.[7]
Diatas
diceritakan dalam Tawakkal seekor Burung adalah dengan pergi mencari makan pada
pagi harinya dan kembali pada sore harinya, maka Allah menjamin dengan
memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja disarang
sambil menunggu makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Begitu pula seharusnya
kita atau manusia di dalam dunia ini, apalagi dia diberi kelebihan yang sangat
banyak dibandingkan seekor Burung.
2.
Sifat
orang yang Bertawakkal
Abu
Ali Al-Rubadzari rahimahullah dalam judul buku pintar tasawuf , ciri sifat dari
orang yang tawakkal:
1. Jika
diberi bersyukur, jika tidak diberi bersabar.
2. Diberi
dan tidak diberi baginya sama saja.
3. Tidak
diberi namun bersyukur lebih ia sukai karena ia sadar betul akan pilihan Allah
atas dirinya.[8]
Disini dikisahkan
dari Hatim al-Asham Rahimahullah pernah ditanya, “atas dasar apa engkau
mengatakan bahwa engkau ini bagain dari tawakkal?” ia menjawab, “atas dasar
empat hal: pertama, aku sadar bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain,
sehingga aku tidak perlu gelisah. Kedua, aku sadar bahwa amalku tidak akan
dikerjakan oleh orang lain, sehingga aku yang harus melakukannya sendiri.
Ketiga, aku sadar bahwa kematian datang secara tiba-tiba, sehingga aku harus
segera menyambutnya. Keempat, aku sadar bahwa Allah selalu melihatku segala
kondisi, sehingga aku mesti malu kepadanya.”[9]
Dari pemaparan
cerita dan ciri sifat orang yang bertawakkal itu bahwasannya, ketika kita
meminta sesuatu kepada Allah jika diberi rizki dan sesuai dengan do’anya dia
bersyukur dan kalau dia tidak diberi dia bersabar. Seandainya dia diberi dan
tidak diberi itu sama saja dan dia sadar betul akan takdir Allah yang terbaik
atas dirinya.
3.
Manfaat
tawakkal kepada Allah SWT
1. dicukupkan
Rizkinya dan merasakan ketenangan.
Dan
ini memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan penerapan
diatas dijelaskan dalam (At-Thalaq : 3).[10]
2. Dikutkan
dan dijauhkan dari setan.
“sesungguhnya
syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal
kepada Tuhannya”. (An-Nahl:99).
Termasuk
dari umat Nabi muhammad yang masuk surga tanpa di hisab. Didalam hadits
diriwayatkan, Rasulullah pernah menyebutkan bahwa diantara umatnya ada tujuh
puluh ribu oarang yang masuk surga tanpa dihisab. Kemudian beliau bersabda, ”yaitu
mereka yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat ramalan yang
buruk-buruk dan kepada Rabb mereka bertawakkal”. (diriwayatkan Al-Bukhary dan
Muslim). Sebenar-benar kitab adalah kitabullah dan sebenar-benar pengalaman
adalah sunnah nabi Muhammad SAW. Tidak ada taufik kecuali Allah SWT, cukuplah
Dia bagi kita dan dialah sebaik-baik penolong bagi kita.[11]
3. Bertawakkallah
kepada Allah bukan berart meninggalkan usaha untuk mencari rizki dan tidak
berobat. Rasulullah sendiri merupakan orang yang paling takut dan paling
bertawakkal kepada Allah, akan tetapi beliau berusaha untuk mencari rizki
dengan cara berdagang. Dalam haditsnya
seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu ia berkata: “Wahai
Rasulullah, saya ikat (hewan tunggangan saya) lalu bertawakkal atau saya lepas
lalu bertawakal?” Beliau menjawab: “Ikatlah lalu bertawakal”.[12]
DAFTAR
PUSTAKA
Al-sulami, abdirrahman Abu. Al-muqaddimah
Fi Al-Tasawwuf.
Erlangga, 2007.
Solihi . TASAWUF
TEMATIK. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2003.
http://keranakasihnabi.blogspot.com/2013/02/tawakal-3-tanyalah-ustaz-03022013.html, Diakses: 29 Maret 2013.
Irawan,Aguk.
Buku Pintar Tasawuf. Jakarta: Zaman,
2012.
Rifa’i, Bachrum dan Hasan Mud’is. Filsafat Tasawuf. Bandung:
Pustaka Setia, 2010.
Abu Fajar
Al Qalami, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin Imam Al Ghazali,(Surabaya:
Gitamedia Press,2003),
[1] Bachrum Rifa’i
dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214
[2] Ibid.
[4] Bachrum Rifa’i
dan Hasan Mud’is, Filsafat Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 214
[5]Abu Fajar Al Qalami, Ringkasan
Ihya’ Ulumuddin Imam Al Ghazali,(Surabaya: Gitamedia Press,2003), 259.
[6] Ibid, 360.
[7] Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012),
145-146.
[8] Ibid, 140.
[9] Abu Abdirrahman Al-sulami, Al-muqaddimah Fi Al-Tasawwuf,
(Erlangga,2007), 78.
[10]
http://keranakasihnabi.blogspot.com/2013/02/tawakal-3-tanyalah-ustaz-03022013.html, Diakses: 29 Maret 2013.
[11] Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012),136-137.
[12] http://keranakasihnabi.blogspot.com/2013/02/tawakal-3-tanyalah-ustaz-03022013.html, Diakses: 29 Maret 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar